“FUEL CELL, Teknologi
bersih yang menjanjikan”
Sel bahan bakar (fuel cell) merupakan sel elektrokimia yang
mampu mengkonversi bahan bakar (fuel) menjadi energi listrik. Sel ini dapat
digunakan sebagai pembangkit listrik skala besar, maupun skala kecil, misalnya
untuk keperluan rumah tangga, atau biasa disebut dengan microCHP (micro
Combined Heat and Power) yang mampu menyediakan kebutuhan listrik dan panas
bagi rumah tangga. Fuel cell juga dapat digunakan dalam bidang otomotif. Bahkan
Brazil telah melakukan uji coba prototipe bus fuel cell pada tahun 2009, yang
bahan bakarnya, yaitu hydrogen, diproduksi dari elektrolisis air pada suatu
stasiun produksi gas hidrogen. Pada tahun 2003, Honda juga telah meluncurkan
mobil berbahan bakar hidrogen dengan menerapkan teknologi fuel (Honda FCX).
DeimlerChrysler di Eropa bahkan telah meluncurkan proyek Sarana Transportasi
Kota yang bersih untuk Eropa (CUTE = Clean Urban Transport for Europa) akhir
tahun 2001 berupa sejumlah bus berbahan fuel cell yang beroperasi di Amsterdam,
Barcelona, Hamburg, London, Luxemburg, Madrid, dan Reykjavik (Islandia).
Berbeda dengan teknologi penghasil energi yang berbasis
pembakaran, teknologi ini bersih, karena jika digunakan hidrogen sebagai bahan
bakar, maka tidak akan dihasilkan karbon dioksida (CO2) sebagai hasil samping
produksinya. Sedangkan jika digunakan bahan bakar hidrokarbon, yang bersumber
dari bahan bakar fosil, maka karbon dioksida masih akan diproduksi, tetapi
dengan kuantitas yang jauh lebih rendah dibandingkan karbon dioksida yang dihasilkan
oleh mesin penghasil energi yang berbasiskan teknologi pembakaran. Berkaitan
dengan fleksibilitas bahan bakar yang bisa digunakan tersebut, fuel cell juga
dinyatakan sebagai teknologi yang berkelanjutan, karena selain mengandalkan gas
hidrogen murni sebagai bahan bakar, teknologi ini juga tetap bisa menggunakan
bahan bakar fosil, seperti gas metana, butana, etanol, metanol dan sebagainya.Prinsip dasar kerja fuel cell pertama kali ditemukan oleh
seorang ilmuwan Jerman bernama Christian Frederic Schonbein pada tahun 1838,
dan dipublikasikan dalam suatu majalah ilmiah. Sketsa pertama dari fuel cell
dibuat oleh Sir William Robert Grove tahun 1842 pada majalah ilmiah
Philosophical Magazine and Journal of Science. Tahun 1955, seorang ahli kimia,
W Thomas Grubb, yang bekerja pada Perusahaan General Electric, memodifikasi
desain fuel cell dengan mengaplikasikan membran penukar ion-polistiren tersulfonasi.
Tiga tahun kemudian, modifikasi dilanjutkan oleh Leonard Niedrach, dengan
mendeposisikan platinum pada membran polistiren tersebut. Platinum tersebut
berfungsi sebagai katalis (pemercepat reaksi) bahan bakar. Selanjutnya
perusahaan General Electric bekerjasama dengan NASA dalam Proyek Gemini, yang
merupakan proyek yang pertama kali mempergunakan fuel cell secara komersial.
Tahun 1959, seorang Insinyur Inggris Francis Thomas Bacon,
berhasil mengembangkan fuel cell yang mampu menghasilkan daya 5 kW. Pada tahun
yang sama, Harry Ihrig dan timnya mampu membuat fuel cell berdaya 15 kW. UTC
Power merupakan perusahaan yang pertama kali memproduksi secara komersial fuel
cell stasioner yang digunakan sebagai pembangkit energi cadangan pada rumah
sakit, universitas-universitas, maupun gedung-gedung perkantoran. Sampai akhir
2009, UTC Power telah memasarkan fuel cell dengan produksi daya mencapai 400
kW. Perusahaan ini juga tetap mensuplai fuel cell untuk NASA, selain juga
mengembangkannya sebagai sumber energi dalam bidang otomotif. Perusahaan ini
pula yang pertama kali
mendemonstrasikan fuel cell untuk otomotif, yang menggunakan
membrane PEM (proton exchange membrane) yang mampu beroperasi pada kondisi
beku.
Beberapa contoh penggunaan fuel cell dalam kendaraan
bermotor
Jenis-jenis fuel cell dapat dibedakan berdasarkan temperatur
operasionalnya. Fuel cell yang dioperasikan pada temperatur kurang dari atau
sampai 200 derajat C, contohnya yaitu PEMFC (proton exchange membrane fuel cell) dan
DMFC (Direct methanol fuel cell). Kedua jenis fuel cell tersebut sudah dalam
tahap komersial, tetapi risetnya masih berlanjut sampai sekarang dalam rangka
meningkatkan efisiensinya. Fuel cell yang dioperasikan pada temperatur sedang,
yaitu antara 600 derajat C – 800 derajat C, contohnya adalah MCFC (molten carbonate fuel
cell) yang mampu menghasilkan daya sampai 100 MW dan DCFC (Direct Carbon Fuel
Cell). Meskipun kedua jenis ini sudah sampai pada tahap komersial, risetnya
juga tetap berlangsung dalam rangka peningkatan efisiensinya. Sedangkan fuel
cell yang dioperasikan pada temperatur tinggi yaitu antara 850 derajat C – 1100 derajat C,
adalah SOFC (solid oxide fuel cell). Kelebihan dari SOFC ini adalah tidak
diperlukan keberadaan katalis dalam sistemnya, sehingga biaya produksinya dapat
diturunkan, karena katalis merupakan material yang cukup mahal serta mudah
teracuni oleh hasil samping reaksi dalam sel, yaitu karbon monoksida atau
teracuni oleh kandungan sulfur dalam bahan bakarnya.
Salah satu jenis fuel cell yang cukup menarik adalah fuel
cell yang menggunakan bakteri sebagai katalis. Tepatnya, menggunakan enzim dari
bakteri tersebut sebagai katalis, dikarenakan enzim dari bakteri mikroba
tersebut bersifat aktif secara elektrokimia, yaitu mampu mentransfer elektron-elektron
ke material lain. Pada fuel
cell jenis ini, yang biasa disebut dengan microbial fuel
cell, bahan bakar dioksidasi oleh mikroorganisme di anoda, menghasilkan
elektron-elektron dan proton-proton. Elektron-elektron ditransfer ke katoda
melalui sirkuit eksternal, sedangkan proton- proton ditransfer ke katoda
melalui separator membran.
Perkembangan teknologi yang menghasilkan sumber energi yang
bersih dan dapat diperbarui sangat diperlukan saat ini, dengan tujuan utama
mengurangi pelepasan karbon dioksida ke dalam atmosfir bumi yang berkontribusi
besar pada pemanasan global. Bahkan, pemerintah Indonesia telah menjadikan hal
tersebut sebagai salah satu kebijakannya yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah
RI tahun 2006. Dalam PP tersebut ditetapkan bahwa 5% dari konsumsi energi
nasional harus merupakan sumber energi baru. Dewan riset nasional, pada tahun
2006 juga sudah mencanangkan bahwa pada tahun 2025, sel bahan bakar dengan
kapasitas 250 MW harus sudah dikembangkan. Dengan perkembangan pesat
riset-riset fuel cell di luar negeri, bahkan teknologi ini telah memasuki tahap
komersial di negara-negara maju tersebut, terutama dalam bidang otomotif. Kita
berharap bangsa Indonesia mampu secara mandiri mengembangkan teknologi ini
sehingga tidak hanya menjadi pangsa pasar bagi produk-produk fuel cell dari
Negara lain.
Saat ini para peneliti yang tergabung dalam konsorsium Fuel
Cell Indonesia (FCI) telah menghasilkan prototype skala laboratorium pembangkit
listrik tenaga (PLT) Fuel Cell dengan kapasitas 500 watt untuk pemakaian di
rumah tangga. Penelitian-penelitian pembuatan komponen-komponen fuel cell telah
dilakukan secara parsial di berbagai lembaga penelitian seperti LIPI, BPPT,
Batan, ITB, UI, Lemigas maupun PLN. Selanjutnya, prototype PLT fuel cell
tersebut akan dikembangkan untuk skala industri. Cetak biru produksi PLT fuel
cell telah dibuat oleh konsorsium FCI dan telah ada industri yang tertarik
untuk memproduksinya, yaitu Medco Energy. Dengan bantuan kebijakan dari
pemerintah baik berupa pemberian insentif maupun keringanan pajak, diharapkan
dapat menurunkan biaya produksi dan pembangkitan PLT fuel cell tersebut
sehingga mampu bersaing dengan pembangkit listrik konvensional yang telah ada.
Pengembangan selanjutnya adalah meningkatkan kandungan lokal
dalam PLT fuel cell, antara lain pada bahan baku polimer dan oksida padat yang
digunakan. Sedangkan gas hidrogen, sebagai bahan bakar fuel cell, keberadaannya
melimpah di Indonesia. Dari PLTU Suralaya saja, gas hidrogen dihasilkan sebagai
produk samping sebanyak 150 ton per hari, sedangkan yang dimanfaatkan kembali
untuk pembangkitnya hanya 20 ton per hari. Dengan ketersediaan bahan bakar,
bahan baku komponen fuel cell, serta para peneliti yang kompeten, maka
selayaknyalah bangsa Indonesia menyandarkan harapan pada kelompok-kelompok
riset di bidang fuel cell tersebut, baik yang berasal dari
universitas-universitas, maupun lembaga-lembaga penelitian di Indonesia untuk
mampu mengembangkan teknologi fuel cell sebagai pembangkit energi yang bersih,
secara mandiri